Home > Politik > Jangan jadi caleg perempuan yang hanya memenuhi kuota di Pemilu Legislatif 2019

Jangan jadi caleg perempuan yang hanya memenuhi kuota di Pemilu Legislatif 2019

pemilu legislatif 2019

Undang undang kepemiluan telah mensyaratkan agar keterwakilan perempuan di setiap partai berada di ambang 30%. Bagi beberapa partai yang memang sudah besar dan memiliki basis pemilih perempuan maka tidak akan sulit menemukan kader perempuan yang mumpuni untuk menjadi wakil rakyat sekaligus wakil partai di dewan.  Meskipun begitu masih saja ada beberapa anggota dewan perempuan yang belum menampilkan taji mereka saat berada di dewan.  Diharapkan dengan adanya pemilu legislatif 2019 ini, akan tersaring calon legislatif muda,  jujur, dan mampu mewakili suara  rakyat.

Bagaimana agar caleg perempuan tidak lagi menjadi unsur pelengkap dan pemanis anggota dewan setelah mereka masuk dan terpilih sebagai anggota dewan? Pendidikan politik merupakan faktor penting dalam hal ini. Perlu diketahui, Pemilihan Legislatif 2019 besok persentase keterwakilan perempuan mencapai 40,08%, yang berarti ada 3.200 perempuan yang akan bersaing memperebutkan kursi DPR. Namun begitu, perjuangan caleg perempuan masih terjal. Caleg perempuan lebih dominan berada pada posisi nomor urut 3 hingga 6, sedangkan yang berada di posisi nomor 1 tercatat hanya sekitar 20%. Yang berada di posisi nomor 1 pun merupakan petahana yang sudah pernah menjadi anggota DPR dan sudah popular serta memiliki suara daerah pemilihan.

Jika partai politik jeli dengan keterwakilan 30%, maka semestinya partai politik melakukan pengkaderan bagi anggota perempuan di partai politik. Sayangnya, hanya beberapa partai politik yang serius dengan melakukan penjaringan terhadap caleg perempuan, selebihnya terkesan asal rekrutmen saja. Padahal, jika dilihat dari prosentase pemilih, sekitar 92.9 juta pemilih perempuan bisa menjanjikan kemenangan yang signifikan. Bagaimana strategi caleg perempuan agar mampu meraih suara? Pertama, visis misi yang banyak diusung oleh caleg perempuan lebih banyak mengenai isu pada perempuan dan anak, disamping itu ada pula mengenai kesehatan, pendidikan, keluarga, usaha kecil dan menengah, serta pada kesetaraan gender. Kedua, caleg perempuan harus mampu berkampanye dengan cara yang lebih kreatif, inovasi, serta edukatif. Caleg perempuan harus mampu bagaimana menggaet pemilih jaman now dengan memanfaatkan social media dengan baik. Ketiga, lakukan pemetaan politik dengan tepat. Hal ini untuk mengetahui demografi pemilih serta dukungan dari competitor.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *